PROPOSAL - KULIAH LAPANG PERTANIAN TERPADU - BUDIDAYA MICROGREEN DENGAN PUPUK ORGANIK CAIR KOTORAN MARMOT DAN PENGOLAHAN SALAD SAYUR

 

File PDF

PROPOSAL

KULIAH LAPANG PERTANIAN TERPADU

 

BUDIDAYA MICROGREEN DENGAN PUPUK ORGANIK CAIR KOTORAN MARMOT DAN PENGOLAHAN SALAD SAYUR





Disusun oleh

Abdulloh (17011059)

Kelas 11C4

 


 

FAKULTAS AGROINDUSTRI

UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

2019


DAFTAR NAMA KELOMPOK

 

1.      Program Studi Agroteknologi

a.  17011029   Abdulloh


LEMBAR PENGESAHAN

 

Pengajuan Proposal Kuliah Lapang Pertanian Terpadu Tahun Ajaran 2020/2021.

Disetujui dan disahkan :

Judul Laporan               :..PROPOSAL KULIAH LAPANG PERTANIAN TERPADU

Nama Penyusun            : Abdulloh                 NIM : 17011059

 

 

 

Di                                         : Kabupaten Semarang

Pada Tanggal                       : 28 September 2020

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pembimbing

 

 

 

Ir. Bambang Sriwijaya, M. P.

NIDN : 0013016201

 


KATA PENGANTAR

       Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

     Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga Proposal Kuliah Lapang Pertanian Terpadu dengan judul ”Budidaya Microgreen dengan Pupuk Organik Cair Kotoran Marmot dan Pengolahan Salad Sayur” dapat terselesaikan dengan baik. Terima kasih kepada Bapak Ir. Bambang Sriwijaya, M. P. Sebagai pembimbing utama yang telah membimbing dan memberikan pengarahan selama pembuatan proposal Kuliah Lapang Pertanian Terpadu ini.

       Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan memberi semangat dalam pembuatan proposal Kuliah Lapang Pertanian Terpadu ini. Pada proposal kuliah lapang pertanian terpadu ini sangat dimungkinkan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Segala bentuk kritik dan saran akan dengan senang diterima dan diharapkan dapat membantu dalam penulisan proposal selanjutnya agar lebih baik lagi.

       Akhir kata, semoga proposal yang sederhana ini dapat bermanfaat. Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

 

Kabupaten Semarang, 28  September  2020

 

 

 

Penulis

 

                                                                                                     


DAFTAR ISI

Halaman  

DAFTAR NAMA KELOMPOK.................................................................... ii

LEMBAR PENGESAHAN............................................................................ iii

KATA PENGANTAR..................................................................................... iv

DAFTAR ISI................................................................................................... v

DAFTAR TABEL............................................................................................ vi

DAFTAR GAMBAR....................................................................................... vii

BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................. 1

A.    Latar Belakang................................................................................. 1

B.     Tujuan.............................................................................................. 2

BAB II. GAMBARAN UMUM RANCANA USAHA................................. 3

A.      Gambaran Umum Rencana Usaha................................................... 3

B.       Kompos (Kotoran Marmot)............................................................. 4

C.       Microgreen....................................................................................... 4

D.      Diversifikasi Pengolahan.................................................................. 9

E.       Analisa Ekonomi.............................................................................. 10

BAB III. METODE PELAKSANAAN.......................................................... 14

A.      Alat.................................................................................................. 14

B.       Bahan............................................................................................... 14

C.       Cara Kerja........................................................................................ 15

BAB. IV RENCANA ANGGARAN............................................................. 18

BAB V. TIME SCHEDULE........................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 21

 




BAB I. PENDAHULUAN

 

A.      Latar belakang

Sistem pertanian terpadu (Integrated Farming System) merupakan integrasi antara peternak, pertanian, dan pengolahan hasil pertanian  yaitu dengan perpaduan dari ketiga kegiatan tersebut dilakukan dari hulu sampai hilir. Dengan sistem pertanian terpadu dapat menunjang ketersediaan pupuk kandang di lahan pertanian.

 Sistem pertanian terpadu merupakan sistem yang menerapkan prinsip zero waste karena limbah peternakan nantinya akan menjadi  pupuk, dan limbah pertanian dapat menjadi pakan ternak. Integrasi antara ternak dan  tanaman dapat meningkatkan keuntungan dari segi ekonomi selain itu dapat memperbaiki kondisi kesuburan tanah.

Hasil dari pertanian dapat diolah menjadi makanan yang siap dihidangkan. Dengan itu hasil panen dari pertanian dapat kita olah sampai menjadi makanan, berbeda dengan yang biasanya petani lakukan. Mereka akan menjualnya dengan kondisi hasil pertanian bahan mentah. Dengan dilakukannya pengolahan hasil pertanian maka produk yang sampai pada konsumen berupa makanan yang siap untuk disantap.

Dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan menjadikan pola hidup masyarakat cenderung berubah ke arah pola hdup sehat hal ini didukung dengan  terjadinya bencana non alam yaitu pandemi yang disebabkan oleh virus corona (covid-19). Salah satu bentuk peralihan ke arah pola hidup sehat yaitu masyarakat selektif dalam memilih bahan pangan yang lebih sehat baik dalam proses budidaya dan pengolahannya.

Microgreen adalah sebutan untuk naman sayuran yang dipanen pada umur yang masih muda, yakni sekitar 7-14 hari setelah semai (hst). Tren microgreen sebagai sumber makanan sehat dan bergiji terus menerus berkembang.

Penggunaan pupuk organik dalam berwirausaha tani sangat penting untuk keberlanjutan lingkungan dan juga menarik konsumen karena hasil produksi


dengan pupuk organik juga berpengaruh dalam memperkaya nilai gizi komoditas itu sendiri.

Beberapa penelitian membuktikan merebus sayuran dapat mengurangi kandungan vitamin yang larut dalam air sebanyak 50-60 persen. Vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B, sangat rentan hilang selama pemasakan. Beberapa mineral dan vitamin A juga hilang selama memasak, meskipun pada tingkat yang lebih rendah. Ditambah lagi, lamanya waktu makanan terpapar panas juga memengaruhi kandungan gizinya. Semakin lama makanan dimasak, semakin besar kehilangan nutrisi. Sehingga pembuatan salad sayur microgreen lebih relevan untuk menarik konsumen baik dari segi kesehatan dan estetika.

B.     Tujuan

Dari sistem pertanian terpadu ini adalah untuk mencukupi kebutuhan jangka pendek, menengah dan panjang dengan cara meningkatkan produktivitas lahan, program pembangunan dan konservasi lingkungan, serta mengembangkan pertanian terpadu dengan cara menggabungkan peternakan, pertanian, dan pengolahan hasil pertanian.

 

 


BAB II. GAMBARAN UMUM RANCANA USAHA

A.           Gambaran Umum Rencana Usaha

Usaha Salad sayur ini bergerak dibidang makanan ringan sehat. Modal yang dikeluarkan tidak begitu banyak. Usaha salad seperti ini saya pikir sangat membantu untuk awal usaha dan terbilang sedikit pesaingnya. 

Microgreens ini dapat secara langsung dikonsumsi tanpa diolah atau dimasak, sehingga kesegaran sayuran setelah panen dapat langsung dirasakan konsumen. Seiring dengan trend gaya hidup sehat, berbagai variasi makanan sehat pun kini bermunculan. Indonesia dengan segala potensi kekayaan alam yang ada, menjadikannya kaya pula akan variasi pangan sehat.

Selain itu, kini konsumsi sayur pun telah banyak kembali digemari. Setelah adanya sayur organik, kini microgreens hadir dengan inovasi konsumsi pangan sayur dalam jumlah yang sedikit namun kandungan gizi lebih tinggi.

Bisnis ini memiliki target masyarakat urban di kota besar yang memiliki segudang aktivitas dan tetap membutuhkan nutrisi dan vitamin untuk memiliki hidup sehat. Masyarakat di kota besar saat ini membutuhkan makanan yang sehat dan simple, sehingga banyak restoran dan hotel yang menjual salad dan restoran dan hotel merupakan sasaran bisnis microgreens.

Penggunaan microgreen sebagai bahan makanan sudah cukup dikenal pada beberapa hotel, restoran dan kafe di kota-kota besar namun secara umum masih banyak masyarakat yang belum mengenalnya. Microgreen umumnya digunakan sebagai bahan baku salad atau bahan pelengkap dari makanan utama.

Penggunaan pupuk kandang marmot juga menjadi nilai tambah bagi pelaku usaha, penggunaan pupuk organic cair marmot ini selain memaksimalkan gizi bagi produk olahan yang karna penggunaan pupuk nya tidak menggunakan pupuk kimia juga mampu memangkas biaya pengadaan pupuk kimia, hal ini dikarenakan penggunaan POC dibuat sendiri.

Selain itu beternak marmot juga dapat digunakan sebagai variasi olahan, yaitu dengan menambahkan olahan daging marmot kedalam salad microgreen itu sendiri sehingga mampu menambah harga jual olahan salad sayur tersebut.

Selain daging marmot produk olahan salad microgreen juga bisa ditambahkan bahan pendukung lainnya seperti tomat ceri, timun kecil dan babygreen selada atau selada yang dipanen pada umumnya.

B.                 Kompos (Kotoran Marmot)

Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003).

Kotoran marmot mirip dengan kotoran kelinci karena tidak membakar tanaman Anda. Rasio karbon-nitrogen (C: N) sekitar 12: 1 jadi ringan. Jika Anda menambahkan alas yang direndam air seni, rasionya lebih tinggi. Membuat pupuk kandang dengan nitrogen tinggi dan fosfor tinggi yang datang dalam bentuk pelet kecil. Mmembuat kompos terlebih dahulu merupakan cara yang lebih baik untuk menggunakannya.

Pengolahan hasil perternakan menjadi pupuk kompos merupakan tujuan dari sistem pertanian terpadu, karena beralihnya pelaku usaha tani dalam penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik dapat membuat aktifitas pertanianya menjadi berkelanjutan dan juga mampu menghasilkan produk yang sehat bagi konsumen atau masyarakat.

Dan juga label organik pada produk pertanian akan dihargai tinggi oleh pasar hal ini sejajar oleh manfaat yang akan diperoleh oleh konsumen. Sehingga petani selain memberikan hasil pertanian yang sehat, petani diharapkan juga memperoleh kesejahteraan secara financial dari produk yang disediakan.

C.      Microgreen

            Microgreens mulai muncul di menu koki sejak 1980-an, di San Francisco, California, menurut sumber industri lokal. Industri sayuran mikro AS terdiri dari berbagai perusahaan benih dan petani.

                Microgreens merupakan sayuran hijau dan tanaman herbal yang dipanen sangat muda ketika daun kotiledon baru muncul, yaitu setelah 7 – 14 hari masa semai sehingga kandungan nutrisinya sangat tinggi. Microgreens ini dihasilkan dari biji sayuran dan ukuran panen biasanya antara 3 sampai 10 cm.

           

Gambar 1. Microgreen

            Menurut Penelitian (xiao et all, 2012) mengungkapkan bahwa microgreens memiliki 4- 40 kali jumlah nutrisi dan vitamin dari tumbuhan dewasa, bahkan Hampir seluruh microgreens mengandung tingkat senyawa bioaktif yang jauh lebih tinggi, antara lain asam askorbat, phylloquinone, tocopherols, karotenoid, vitamin, mineral, dan antioksidan dari bentuk daun asli yang sudah dewasa atau sudah menjadi sayuran sejati.

            Sekarang, tim ilmuwan dan rekan dari Layanan Penelitian Pertanian telah menerbitkan beberapa penelitian yang menjelaskan tidak hanya manfaat nutrisi mikro, tetapi juga persyaratan umur simpan yang kompleks.

            Para peneliti menentukan konsentrasi vitamin esensial dan karotenoid dalam 25 varietas sayuran mikro yang tersedia secara komersial. Nutrisi utama yang diukur adalah asam askorbat (vitamin C), tokoferol (vitamin E), phylloquinone (vitamin K), dan beta-karoten (prekursor vitamin A), ditambah karotenoid terkait lainnya di kotiledon.

            Tim tersebut menunjukkan bahwa microgreens yang berbeda mengandung jumlah vitamin dan karotenoid yang sangat berbeda. Kandungan vitamin C total berkisar antara 20 hingga 147 miligram (mg) per 100 gram bobot segar kotiledon, tergantung pada spesies tanaman yang diuji. Jumlah karotenoid beta-karoten, lutein / zeaxanthin, dan violaxanthin berkisar antara 0,6 mg hingga 12,1 mg per 100 gram berat segar.

            Dengan begitu banyak manfaat yang ada pada microgreen diharapkan mampu menjadi peluang bagi pelaku usaha terlebih untuk pelaku usaha yang masih pemula, hal ini dikarenakan modal yang cukup rendah, proses yang cukup singkat dan dengan pengolahan yang sangat sederhana mampu menjadi sebuah usaha yang sangat menjajikan.

            Komoditas microgreen yang akan digunakan antara lain :

1.    Microgreen Bayam Hijau dan Merah

Bayam (Amaranthus) adalah tumbuhan yang biasa ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai sayuran hijau. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik namun sekarang tersebar ke seluruh dunia. Tumbuhan ini dikenal sebagai sayuran sumber zat besi yang penting bagi tubuh.

Dalam 100 gr bayam hijau mengandung energi sebesar 16 Kkal, protein 0,9 gr, lemak 0,4 gr, karbohidrat 2,9 gr, kalsium 166 mg, serat 0,7 gr, zat besi 3,5 mg dan 41 mg vitamin C. Bayam hijau dapat diolah menjadi sayur bayam yang dipadukan dengan jagung, dapat pula ditumis, dan dapat diolah menjadi camilan sehat yaitu keripik bayam.

Jenis yang merah banyak mengandung protein, lemak, karbohidrat, kalium, zat besi, amarantin, rutin, purin serta vitamin A, B dan C. Bayam merah mengandung betasianin dan antosianin-pigmen alami yang lebih tinggi daripada bayam hijau. Dalam 100gr bayam merah mengandung energi sebesar 41,2 kkal, 2,2 gr protein, 0,8 gr lemak, 6,3 gr karbohidrat, 520 mg kalsium, serat 2,2 gr, 7 mg zat besi dan 62 mg vitamin C.

Salah satu pertimbangan pemilihan komoditas bayam selain gizi tinggi yang ada pada bayam juga dikarenakan harga benih yang murah dan mudah didapatkan.

Gambar 2. Microgreen Bayam Hijau

Gambar 3. Microgreen Bayam Merah

2.      Microgreen Selada

Selada (Lactuca sativa L) merupakan salah satu komoditi hortikultura yang memiliki prospek dan nilai komersial yang cukup baik. Semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia serta meningkatnya kesadaran penduduk akan kebutuhan gizi menyebabkan bertambahnya permintaan akan sayuran. Kandungan gizi pada sayuran terutama vitamin dan mineral tidak dapat disubtitusi melalui makanan pokok, Nazaruddin (2003).

https://www.99.co/blog/indonesia/wp-content/uploads/2019/01/tanaman-microgreen-header.jpg

Gambar 4. Microgreen Selada

Studi membandingkan kandungan mineral untuk selada hijau kecil dengan yang tumbuh sempurna. Ternyata, selada kecil punya lebih banyak kalsium, magnesium, besi, seng, dan mangan.

Selada adalah tanaman sayuran yang biasanya dapat dimakan secara mentah, hal ini dikarenakan selada memiliki kandungan mineral yang cukup tinggi. Permintaan sayuran di Indonesia semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat yang tinggi akan pola makan hidup yang sehat karena selada memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Microgreen selada dipilih sebagai pemanis dan pelengkap hal ini dikarenakan harga benihnya cukup mahal, sehingga selain mengambil microgreennya saya juga akan menyertakaan selada pada olahan dengan selada umur dewasa yang nanti akan dibudidaya sendiri, sehingga akan memperkaya tampilan produk olahan salad tersebut.

3.      Microgreen Sawi

Komposisi zat-zat makanan yang terkandung dalam setiap 100 g berat basah tanaman sawi berupa Protein 2.3 g, Lemak 0.3 g, Karbohidrat 4.0 g, Ca 220.0 mg, P 38.0 g, Fe 2.9 g, Vitamin A 1.940 mg, Vitamin B 0.09 mg, dan Vitamin C 102 mg (Haryanto et al., 1995).

Tanaman sawi kaya akan sumber vitamin A, sehingga berdaya guna dalam upaya mengatasi masalah kekurangan vitamin A atau mengatasi penyakit rabun ayam (Xerophthalmia) yang sampai kini menjadi masalah di kalangan anak balita. Kandungan nutrisi lain pada tanaman ini berguna juga dalam menjaga kesehatan tubuh manusia (Rukmana, 1994).

Pemilihan komoditas microgreen sawi juga ditujukan juga untuk menambah keanekaragaman pada olahan salad, dengan banyaknya komoditas tanaman pada olahan diharpkan mampu menarik perhatian pembeli/konsumen untuk membeli.

Gambar 5. Microgreen Sawi

 

D.           Diversifikasi Pengolahan

     Diversifikasi pangan merupakan upaya untuk mendorong masyarakat agar memvariasikan makanan pokok yang dikonsumsi sehingga tidak terfokus pada satu jenis saja. Konsep diversifikasi hanya terbatas pangan pokok, sehingga diversifikasi konsumsi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non beras (Pakpahan dan Suhartini, 1989). Pada dasarnya diversifikasi pangan mencakup tiga lingkup pengertian yang saling berkaitan, yaitu diversifikasi konsumsi pangan, diversifikasi ketersediaan pangan, dan diversifikasi produksi pangan (Suhardjo, 1998).

     Diverifikasi pangan juga bermanfaat untuk memperoleh nutrisi dari sumber gizi yang lebih beragam dan seimbang. Diversifikasi pangan yang dilakukan masyarakat kawasan ASEAN umumnya, dan Indonesia khususnya yaitu berupa nasi, karena mayoritas wilayah Asia Tenggara merupakan wilayah penghasil beras. Indonesia juga menegaskan komitmennya dalam melaksanakan program tersebut dengan menjelaskan definisi diversifikasi pangan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan demi mewujudkan swasembada beras dengan meminimalkan konsumsi beras agar tidak melebihi produksinya.

1.    Salad

Microgreens paling baik konsumsi secara segar tanpa dimasak. Umumnya, microgreens digunakan sebagai garnish atau hiasan pada masakan di restoran, seperti steak dan sup. Setelah diketahui memiliki nutrisi yang luar biasa banyak, microgreens mulai dikonsumsi sebagai salad.

Saat ini Covid-19 menjadi wabah pandemi mengkhawatirkan yang menginfeksi saluran pernapasan manusia yang terjadi hampir di seluruh negara di muka bumi ini. Mengonsumi makanan dengan gizi seimbang yang mengandung mineral, antioksidan dan vitamin tinggi dapat membangun sistem imun. Bahan alami seperti senyawa fitokimia dari tumbuhan khususnya yang ditanam dalam bentuk microgreens menawarkan alternatif yang patut diperhitungkan.

Micro greens salad. stock photo © Kurhan (#6312533) | Stockfresh

Gambar 6. Salad Microgreen

Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan makanan yang memiliki kandungan micronutrient dapat meningkatkan sistem imun. Microgreens merupakan lalaban mikro yang didapat dengan cara menanam sayuran atau tumbuhan herbal lainnya selama 7 sampai dengan 21 hari dengan potensi yang sangat besar untuk melawan covid-19.

Berbekal pengetahuan tersebut peluang salad microgreen sangat menjanjikan dimasa-masa seperti ini, hal ini dudukung juga dengan meningkatnya pengtahuan masyarakat tentang manfaat yang terdapat pada tanaman microgreen. Salad microgreen dengan kemasan ekonomis dan harga yang terjangkau dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang tidak memiliki waktu untuk mengolahnya.

 

E.       Analisa Ekonomi

1.         Proyeksi Keuangan

Biaya Tetap

No

Nama Alat

Jumlah

Harga Satuan (Rp)

Harga Total (Rp)

Budidaya Ternak

1

Drum 5 Ukuran Liter

1 item

10.000,00

10.000,00

Budidaya Microgren

1

Nampan

6 item

10.000,00

60.000,00

2

Botol Spray

1 item

15.000,00

15.000,00

Pengolahan Salad Microgreen

1

Pisau

1 item

15.000,00

15.000,00

2

Gunting

1 item

10.000,00

10.000,00

Total

110.000,00

Biaya Penyusutan

No

Nama Alat

Jumlah (Unit)

Harga Beli (Rp/Unit)

Nilai Sisa (Rp/Unit)

Umur Ekonomis

Penyusutan Pertahun

1

Drum  Ukuran5  Liter

1 item

10.000,00

7.000,00

1

Rp. 3.000

2

Nampan

6 item

10.000,00

6.000,00

1

Rp. 12.000

3

Botol Spray

1 item

15.000,00

10.000,00

1

Rp. 5.000

4

Pisau

1 item

15.000,00

10.000,00

1

Rp. 5.000

5

Gunting

1 item

10.000,00

8.000,00

1

Rp. 2.000

Total

Rp. 27.000

Tabel 1. Biaya Tetap

Biaya Variabel

No

Nama Bahan

Jumlah

Harga Satuan (Rp)

Harga Total (Rp)

Budidaya Ternak Marmot

1

Marmot

1 ekor

40.000,00

40.000,00

2

EM4

1 liter

15.000,00

15.000,00

3

Molase

1 liter

8.000,00

8.000,00

4

Pakan

­ -Sayur

3 kg

2.000,00

6.000,00

Budidaya Microgreen

1

Benih sawi

1 bungkus

25.000,00

25.000,00

2

Benih Bayam Hijau

1 bungkus

27.000,00

27.000,00

3

Benih Bayam Merah

1 bungkus

22.000,00

22.000,00

4

Benih Selada

2 bungkus

23.000,00

46.000,00

5

Insektisida

1bungkus

20.000,00

20.000,00

6

fungisida

1bungkus

25.000,00

25.000,00

7

Pupuk Kandang

1karung (ukuran 25 kg)

10.000,00

10.000,00

Pengolahan Salad Microgreen

1

Mayones

1 kg

30.000,00

30.000,00

2

Sosis

1 pack

24.000,00

24.000,00

3

Cup Packing

25 item

1.000,00

25.000,00

4

Kantong Plastik

1 pack

10.000,00

10.000,00

5

Tomat Ceri

250 gram

7.000,00

7.000,00

6

Timun Kecil

1 bungkus

6.000,00

6.000,00

7

Label

1 lembar A3

10.000,00

10.000,00

8

Plastik Klip 5x8 cm

1 pack

5.000,00

5.000,00

Total

361.000,00

Tabel 2. Biaya Variabel

2.      Proyeksi hasil penjualan

Olahan salad microgreen akan dibuat dengan dua varian yaitu yang pertama varian dengan isian 4 jenis komoditas microgreen dan juga bahan pendukung lain seperti potongan tomat ceri, selada dewasa, timun kecil dan mayones dengan total berat 100 gram. Untuk varian kedua dengan isian 4 jenis komoditas microgreen dan juga bahan pendukung lain seperti potongan tomat ceri, selada dewasa, timun kecil, mayones, daging marmot dan sosis potongan dengan berat total 150 gram.

Dengan adanya dua varian tersebut juga akan ada perbedaan pemberian harga jual yaitu untuk varian pertama dengan berat 100gram akan diberi harga Rp. 10.000/pack dan untuk varian kedua dengan berat 150gram akan dibandrol harga Rp. 15.000/pack. Penjualan varian ke 2 dilakukan pada tahap ke 3 atau minggu terakhir hal ini dikarenakan hanya memiliki 1 ternak marmot.

Total biaya produksi Rp. 471.000 sehingga minimal dalam waktu 3 bulan kedepan target penjualan yaitu 30 pack varian pertama dan 12 pack varian kedua.

3.      Analisa  Kelayakan Usaha

Dikarenakan terdapat dua varian harga hal ini juga menyebabkan perbedaan biaya produksi yaitu terdapat pada biaya variabel. Untuk varian pertama biaya variabel menjadi Rp. 297.0000 karena tidak menggunakan daging marmot dan sosis sebagai biaya produksi sedangkan varian kedua dengan berat 150 gram/pack biaya variabel tetap Rp. 361.000

 

BEP multi product

 

(1)

Unit Penjualan

(2)

Perbandingan Penjualan

(3)

Contribution Margin per Unit

(4)

(2x3)

Perbandingan Rata-rata

Varian 100gr

30

30/42

Rp. 100

Rp. 71,5

Varian 150gr

12

12/42

Rp. 14.969

Rp. 4.276,8

Total

42

 

 

Rp. 4.348,3

Tabel 3. BEP Multi Product

*Contribution Margin per Unit = harga jual per unit - Variable Operating Cost per unit

            BEP    

 25,29

 

= 26 Unit

BEP tercapai apa bila titik penjualan mencapai 26 unit (varian 100gr + varian 150gr) dengan masing masing 19 unit varian 100gr (30/42x26) dan varian 150gr 8 unit (12/42x26).

Untuk lebih jelasnya maka tingkat break even point sebesar 26 unit akan dijelaskan pada table berikut.

Keterangan

Produk (Varian)

Total

100gr

150gr

Penjualan

Rp. 190.000

Rp. 120.000

Rp. 310.000

Dikurangi Fixed operating

cost

 

 

Rp. 110.000

Dikurangi Variable Operating Cost

Rp. 297.000

Rp. 361.000

Rp. 658.000

Ebit

0,303

Tabel 4. Nilai Ebit

Sehingga untuk mencapai BEP, produksi harus mencapai 3 kali produksi atau 78 unit (3x26).

BEP     = 3 x 310.000

                        = 930.000

                        = 930.000-200.000 (total penjualan- Fixed operating cost)

                        = 730.000

                        = 730.000-658.000 ( total variable operating cost)

                        = 1,10

R/C ratio

 

 

B/C Ratio lebih kecil dari satu, menunjukkan bahwa produk salad microgreen perlu di teruskan hingga nilai R/C ratio menjadi lebih dari 1, minimal 3 kali produksi .


BAB III. METODE PELAKSANAAN

 

A.  Alat

1.       Nampan

2.       Kemasan Produk

3.       Botol Spray

4.       Sendok

5.        Pisau

6.       Telenan

7.       Gelas Ukur

8.       Timbangan

9.       Label Produk

10.  Gunting

11.  Kantong Plastik

12.  Plastik Klip 5x8 cm

B.  Bahan

1.     Benih Sawi

2.     Benih Selada

3.     Benih Bayam Hijau

4.     Benih Bayam Merah

5.     Mayones

6.     Em4

7.     Molase

8.     Kotoran Marmot

9.     Tetes Tebu

10.                        Media Tanam/Semai

11.                        Tomat Ceri

12.                         Sosis

13.                         Marmot


C.    Cara Kerja

1.      Pembuatan Kompos

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


2.      Budidaya Microgreen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rounded Rectangle: Pengendalian OPT, pengendalian jamur (Damping-Off) saat penyemaian dengan merendam benih kedalam fungisida (tiflo 80 WP dosis 1-2 gr/kg benih)
Pengendalian serangga (jangkrik, belalang, ulat dll) dilakukan ketika dirasa dapat merugikan hasil panen (DURSBAN 200 EC dosis 2-3 ml/liter).
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


3.      Salad Microgreen

Rounded Rectangle: Sortir (seragam) dan pencucian tanaman dengan air mengalir yg telah dipanen baik microgreen dan selada dewasa.
Rounded Rectangle: Menimbang microgren dengan total 50-100 gram/cup dengan timbangan digital.
Rounded Rectangle: Mempersiapkan bahan pendukung seperti tomat ceri yang dipotong kecil, timun dipotong kecil-kecil dan selada dewasa yang juga dipotong kecil.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                                                                                       

 

 

 

Rounded Rectangle: Packing microgreen dengan cap yang telah disediakan, bahan pendukung dan mayonais  ke cup.
Untuk mayones dipacking dulu dengan plastik klip 5-10 gram.
Rounded Rectangle: Pelabelan cup packing, label mengunakan kertas stiker yg telah diberi logo.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



BAB. IV RENCANA ANGGARAN

 

Budidaya Ternak Marmot

No

Nama Bahan

Jumlah

Harga Satuan (Rp)

Harga Total (Rp)

1

Marmot

1 ekor

40.000,00

40.000,00

2

Drum 5 Ukuran Liter

1 item

10.000,00

10.000,00

3

EM4

1 liter

15.000,00

15.000,00

4

Molase

1 liter

8.000,00

8.000,00

5

Pakan

­ -Sayur

3 kg

2.000,00

6.000,00

Budidaya Microgreen

1

Benih sawi (100gr)

1 bungkus

25.000,00

25.000,00

2

Benih Bayam Hijau (100gr)

1 bungkus

27.000,00

27.000,00

3

Benih Bayam Merah (50gr)

1 bungkus

22.000,00

22.000,00

4

Benih Selada (50gr)

2 bungkus

23.000,00

46.000,00

5

Botol Spray

1 item

15.000,00

15.000,00

6

Nampan

6 item

10.000,00

60.000,00

7

Insektisida

1bungkus

20.000,00

20.000,00

7

fungisida

1bungkus

25.000,00

25.000,00

7

Pupuk Kandang

1karung (ukuran 25 kg)

10.000,00

10.000,00

Pengolahan Salad Microgreen

1

Mayones

1 kg

30.000,00

30.000,00

2

Cup Packing

25 item

1.000,00

25.000,00

3

Kantong Plastik

1 pack

10.000,00

10.000,00

4

Tomat Ceri

250 gram

7.000,00

7.000,00

5

Timun Kecil

1 bungkus

6.000,00

6.000,00

6

Label

1 lembar A3

10.000,00

10.000,00

7

Plastik Klip 5x8 cm

1 pack

5.000,00

5.000,00

8

Pisau

1 item

15.000,00

15.000,00

9

Gunting

1 item

10.000,00

10.000,00

10

Sosis

1 pack

24.000,00

24.000,00

JUMLAH

471.000,00

Tabel 5. Rencana Anggaran

 

 

 

 

 


BAB V. TIME SCHEDULE

No

Kegiatan

September

Oktober

November

Desember

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Pertemuan Pertama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Pengumpulan proposal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Pembatan POC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Penyiapan media persemaian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Persiapan lahan Selada dewasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

Penyemaian microgreen

 

 

 

 

*

 

*

*

 

*

*

*

 

 

 

 

 

5

Penanaman selada dewasa

 

 

*

 

*

*

 

*

*

*

 

 

 

 

 

 

 

6

Pemupukan microgreen

 

 

 

 

 

*

 

*

*

 

*

*

 

 

 

 

6

Pemupukan selada dewasa

 

 

 

*

 

*

*

 

*

*

*

 

 

 

 

 

 

7

Pemanenan microgreen

 

 

 

 

 

 

*

 

*

*

 

*

*

*

 

 

 

7

Pemanenan selada dewasa

 

 

 

 

 

 

*

 

*

*

 

*

*

*

 

 

 

8

Pengolahan dan Penjualan Produk

 

 

 

 

 

 

*

 

*

*

 

*

*

*

 

 

 

8

Pengolahan daging marmot

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

Pembuatan Laporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10

Presentasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 6. Time Schedule


Keterangan :

*

Tahap 1

*

*

Tahap 2

 

*

*

*

Tahap 3

 


DAFTAR PUSTAKA

Cahyono B. 2008. Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius.

Crawford. J.H. 2003 . Composting of Agricultural Waste  in Biotechnology Applications and Research, Paul N, Cheremisinoff and R. P.Ouellette (ed). p. 6877.

Darmawan. 2009. Kailan dan Budidayanya. Penebar Swadaya. Jakarta.

Ebert AW. 2012. Sprouts, microgreens, and edible flowers: the potential for high value specialty produce in Asia [disampaikan pada] SEAVEG2012 Regional Symposium, 24-26 January 2012 Hal.

Haryanto, E., S. Tina., dan R. Estu. 1995. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta. 117 hlm.

Nazaruddin., 2003. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya, Jakarta.

Novriani.2014. Respon Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) Terhadap Pemberia Pupuk Organik Cair Asal Sampah Organik.Klorofil.9(2): 57-61.

Pakpahan, A. dan S.H. Suhartini. 1989. Permintaan Rumah Tangga Kota di Indonesia Terhadap Keanekaragaman. Jurnal Agro Ekonomi. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Rukmana, R, 2005. Bertanam Petsai dan Sawi. Yogyakarta: Kanisus.

Rukmana, Rahmat. 1994. Bayam, Bertanam & Pengelolahan Pascapanen. Yogjakarta: Kanisius.

Suhardjo, 1998. Konsep dan Kebijaksanaan Diversifikasi Konsumsi Pangan dalam rangka Ketahanan Pangan. Makalah disampaikan pada Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, tanggal 17- 20 Pebruari 1998. Jakarta.

Sunarjono, H. 2014. Bertanam 36 Jenis Sayuran. Jakarta: Penebar Swadaya. 204

Xiao, Jing Jian., Chen, Cheng., dan Chen, Fuzhong. (2013). Consumer Financial Capability and Financial Satisfaction.  

Comments