PROPOSAL - KULIAH LAPANG PERTANIAN TERPADU - BUDIDAYA MICROGREEN DENGAN PUPUK ORGANIK CAIR KOTORAN MARMOT DAN PENGOLAHAN SALAD SAYUR
PROPOSAL
KULIAH
LAPANG PERTANIAN TERPADU
BUDIDAYA MICROGREEN DENGAN PUPUK ORGANIK CAIR KOTORAN MARMOT DAN PENGOLAHAN SALAD SAYUR
Disusun oleh
Abdulloh (17011059)
Kelas 11C4
FAKULTAS
AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS
MERCU BUANA YOGYAKARTA
2019
DAFTAR
NAMA KELOMPOK
1.
Program
Studi Agroteknologi
a.
17011029 Abdulloh
LEMBAR PENGESAHAN
Pengajuan Proposal Kuliah Lapang Pertanian Terpadu Tahun Ajaran
2020/2021.
Disetujui dan disahkan :
Judul Laporan :..PROPOSAL KULIAH LAPANG PERTANIAN TERPADU
Nama Penyusun :
Abdulloh NIM : 17011059
Di :
Kabupaten Semarang
Pada Tanggal :
28 September 2020
|
Dosen Pembimbing Ir.
Bambang Sriwijaya, M. P. NIDN : 0013016201 |
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji dan syukur
kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga Proposal Kuliah Lapang
Pertanian Terpadu dengan judul ”Budidaya Microgreen dengan Pupuk Organik Cair
Kotoran Marmot dan Pengolahan Salad Sayur” dapat terselesaikan dengan baik.
Terima kasih kepada Bapak Ir.
Bambang Sriwijaya, M. P. Sebagai
pembimbing utama yang telah membimbing dan memberikan pengarahan selama
pembuatan proposal Kuliah Lapang Pertanian Terpadu ini.
Terima
kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan memberi semangat dalam
pembuatan proposal Kuliah Lapang Pertanian Terpadu ini. Pada proposal kuliah
lapang pertanian terpadu ini sangat dimungkinkan masih banyak kekurangan yang
harus diperbaiki. Segala bentuk kritik dan saran akan dengan senang diterima dan
diharapkan dapat membantu dalam penulisan proposal selanjutnya agar lebih baik
lagi.
Akhir
kata, semoga proposal yang sederhana ini dapat bermanfaat. Waalaikumsalam
Warahmatullahi Wabarakatuh.
|
Kabupaten Semarang, 28 September 2020 Penulis |
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR
NAMA KELOMPOK.................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................ iii
KATA PENGANTAR..................................................................................... iv
DAFTAR ISI................................................................................................... v
DAFTAR TABEL............................................................................................ vi
DAFTAR GAMBAR....................................................................................... vii
BAB
I. PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A.
Latar
Belakang................................................................................. 1
B.
Tujuan.............................................................................................. 2
BAB
II. GAMBARAN UMUM RANCANA USAHA................................. 3
A. Gambaran Umum Rencana Usaha................................................... 3
B. Kompos
(Kotoran Marmot)............................................................. 4
C. Microgreen....................................................................................... 4
D. Diversifikasi
Pengolahan.................................................................. 9
E. Analisa
Ekonomi.............................................................................. 10
BAB
III. METODE PELAKSANAAN.......................................................... 14
A. Alat.................................................................................................. 14
B.
Bahan............................................................................................... 14
C. Cara Kerja........................................................................................ 15
BAB.
IV RENCANA ANGGARAN............................................................. 18
BAB
V. TIME SCHEDULE........................................................................... 19
DAFTAR
PUSTAKA...................................................................................... 21
DAFTAR
TABEL
Halaman
BAB I. PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Sistem
pertanian terpadu (Integrated Farming System) merupakan integrasi antara
peternak, pertanian, dan pengolahan hasil pertanian yaitu dengan perpaduan dari ketiga kegiatan
tersebut dilakukan dari hulu sampai hilir. Dengan sistem pertanian terpadu
dapat menunjang ketersediaan pupuk kandang di lahan pertanian.
Sistem pertanian terpadu merupakan sistem yang
menerapkan prinsip zero waste karena limbah peternakan nantinya akan
menjadi pupuk, dan limbah pertanian
dapat menjadi pakan ternak. Integrasi antara ternak dan tanaman dapat meningkatkan keuntungan dari
segi ekonomi selain itu dapat memperbaiki kondisi kesuburan tanah.
Hasil
dari pertanian dapat diolah menjadi makanan yang siap dihidangkan. Dengan itu
hasil panen dari pertanian dapat kita olah sampai menjadi makanan, berbeda
dengan yang biasanya petani lakukan. Mereka akan menjualnya dengan kondisi
hasil pertanian bahan mentah. Dengan dilakukannya pengolahan hasil pertanian
maka produk yang sampai pada konsumen berupa makanan yang siap untuk disantap.
Dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang
kesehatan menjadikan pola hidup masyarakat cenderung berubah ke arah pola hdup
sehat hal ini didukung dengan terjadinya
bencana non alam yaitu pandemi yang disebabkan oleh virus corona (covid-19).
Salah satu bentuk peralihan ke arah pola hidup sehat yaitu masyarakat selektif
dalam memilih bahan pangan yang lebih sehat baik dalam proses budidaya dan
pengolahannya.
Microgreen adalah sebutan untuk naman sayuran yang
dipanen pada umur yang masih muda, yakni sekitar 7-14 hari setelah semai (hst).
Tren microgreen sebagai sumber makanan sehat dan bergiji terus menerus
berkembang.
Penggunaan pupuk organik dalam berwirausaha tani
sangat penting untuk keberlanjutan lingkungan dan juga menarik konsumen karena
hasil produksi
dengan pupuk organik juga berpengaruh dalam memperkaya
nilai gizi komoditas itu sendiri.
Beberapa penelitian membuktikan merebus sayuran dapat
mengurangi kandungan vitamin yang larut dalam air sebanyak 50-60 persen.
Vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B, sangat rentan
hilang selama pemasakan. Beberapa mineral dan vitamin A juga hilang selama
memasak, meskipun pada tingkat yang lebih rendah. Ditambah lagi,
lamanya waktu makanan terpapar panas juga memengaruhi kandungan gizinya.
Semakin lama makanan dimasak, semakin besar kehilangan nutrisi. Sehingga pembuatan salad sayur
microgreen lebih relevan untuk menarik konsumen baik dari segi kesehatan dan
estetika.
B.
Tujuan
Dari
sistem pertanian terpadu ini adalah untuk mencukupi kebutuhan jangka pendek,
menengah dan panjang dengan cara meningkatkan produktivitas lahan, program
pembangunan dan konservasi lingkungan, serta mengembangkan pertanian terpadu
dengan cara menggabungkan peternakan, pertanian, dan pengolahan hasil
pertanian.
BAB
II. GAMBARAN UMUM RANCANA USAHA
A.
Gambaran Umum Rencana Usaha
Usaha Salad sayur ini bergerak
dibidang makanan ringan sehat. Modal yang dikeluarkan tidak
begitu banyak. Usaha salad seperti ini saya pikir
sangat membantu untuk awal usaha dan terbilang sedikit pesaingnya.
Microgreens ini dapat secara langsung dikonsumsi
tanpa diolah atau dimasak, sehingga kesegaran sayuran setelah panen dapat
langsung dirasakan konsumen. Seiring dengan trend gaya hidup sehat, berbagai
variasi makanan sehat pun kini bermunculan. Indonesia dengan segala potensi
kekayaan alam yang ada, menjadikannya kaya pula akan variasi pangan sehat.
Selain itu, kini konsumsi sayur pun telah banyak
kembali digemari. Setelah adanya sayur organik, kini microgreens hadir
dengan inovasi konsumsi pangan sayur dalam jumlah yang sedikit namun kandungan
gizi lebih tinggi.
Bisnis ini memiliki target masyarakat urban di kota
besar yang memiliki segudang aktivitas dan tetap membutuhkan nutrisi dan
vitamin untuk memiliki hidup sehat. Masyarakat di kota besar saat ini
membutuhkan makanan yang sehat dan simple, sehingga banyak restoran dan hotel
yang menjual salad dan
restoran dan hotel merupakan sasaran bisnis microgreens.
Penggunaan microgreen sebagai bahan makanan
sudah cukup dikenal pada beberapa hotel, restoran dan kafe di kota-kota besar namun secara umum
masih banyak masyarakat yang belum mengenalnya. Microgreen umumnya
digunakan sebagai bahan baku salad atau bahan pelengkap dari makanan utama.
Penggunaan pupuk
kandang marmot juga menjadi nilai tambah bagi pelaku usaha, penggunaan pupuk
organic cair marmot ini selain memaksimalkan gizi bagi produk olahan yang karna
penggunaan pupuk nya tidak menggunakan pupuk kimia juga mampu memangkas biaya
pengadaan pupuk kimia, hal ini dikarenakan penggunaan POC dibuat sendiri.
Selain itu
beternak marmot juga dapat digunakan sebagai variasi olahan, yaitu dengan
menambahkan olahan daging marmot kedalam salad microgreen itu sendiri sehingga
mampu menambah harga jual olahan salad sayur tersebut.
Selain daging
marmot produk olahan salad microgreen juga bisa ditambahkan bahan pendukung
lainnya seperti tomat ceri, timun kecil dan babygreen selada atau selada yang
dipanen pada umumnya.
B.
Kompos (Kotoran
Marmot)
Kompos
adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik
yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba
dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik
(Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003).
Kotoran marmot mirip dengan kotoran kelinci karena
tidak membakar tanaman Anda. Rasio karbon-nitrogen (C: N) sekitar 12: 1
jadi ringan. Jika Anda menambahkan alas yang direndam air seni, rasionya
lebih tinggi. Membuat pupuk kandang dengan nitrogen tinggi dan fosfor tinggi
yang datang dalam bentuk pelet kecil. Mmembuat kompos terlebih dahulu
merupakan cara yang lebih baik untuk menggunakannya.
Pengolahan hasil
perternakan menjadi pupuk kompos merupakan tujuan dari sistem
pertanian terpadu, karena
beralihnya pelaku usaha tani dalam penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik
dapat membuat aktifitas pertanianya menjadi berkelanjutan dan juga mampu
menghasilkan produk yang sehat bagi konsumen atau masyarakat.
Dan juga label
organik pada produk pertanian akan dihargai tinggi oleh pasar hal ini sejajar
oleh manfaat yang akan diperoleh oleh konsumen. Sehingga petani selain
memberikan hasil pertanian yang sehat, petani diharapkan juga memperoleh
kesejahteraan secara financial dari produk yang disediakan.
C.
Microgreen
Microgreens
mulai muncul di menu koki sejak 1980-an, di San Francisco, California, menurut
sumber industri lokal. Industri sayuran mikro AS terdiri dari berbagai
perusahaan benih dan petani.
Microgreens
merupakan sayuran hijau
dan tanaman herbal yang dipanen sangat
muda
ketika daun kotiledon baru muncul, yaitu setelah 7 – 14 hari masa semai
sehingga kandungan nutrisinya sangat tinggi.
Microgreens ini dihasilkan dari biji sayuran dan ukuran
panen biasanya antara 3 sampai 10 cm.

Gambar
1. Microgreen
Menurut
Penelitian (xiao et all, 2012) mengungkapkan
bahwa microgreens memiliki 4- 40 kali jumlah nutrisi dan vitamin dari tumbuhan dewasa, bahkan Hampir seluruh
microgreens mengandung tingkat senyawa bioaktif
yang jauh lebih tinggi, antara lain asam askorbat, phylloquinone, tocopherols, karotenoid, vitamin,
mineral, dan antioksidan dari bentuk daun asli yang sudah dewasa atau sudah menjadi sayuran sejati.
Sekarang, tim ilmuwan dan rekan dari Layanan Penelitian Pertanian telah menerbitkan beberapa penelitian yang menjelaskan tidak hanya manfaat nutrisi mikro, tetapi juga persyaratan umur simpan yang kompleks.
Para peneliti menentukan konsentrasi vitamin esensial dan karotenoid dalam 25 varietas sayuran mikro yang tersedia secara komersial. Nutrisi utama yang diukur adalah asam askorbat (vitamin C), tokoferol (vitamin E), phylloquinone (vitamin K), dan beta-karoten (prekursor vitamin A), ditambah karotenoid terkait lainnya di kotiledon.
Tim
tersebut menunjukkan bahwa microgreens yang berbeda mengandung jumlah vitamin
dan karotenoid yang sangat berbeda. Kandungan vitamin C total berkisar antara
20 hingga 147 miligram (mg) per 100 gram bobot segar kotiledon, tergantung pada
spesies tanaman yang diuji. Jumlah karotenoid beta-karoten, lutein /
zeaxanthin, dan violaxanthin berkisar antara 0,6 mg hingga 12,1 mg per 100 gram
berat segar.
Dengan
begitu banyak manfaat yang ada pada microgreen diharapkan mampu menjadi peluang
bagi pelaku usaha terlebih untuk pelaku usaha yang masih pemula, hal ini
dikarenakan modal yang cukup rendah, proses yang cukup singkat dan dengan
pengolahan yang sangat sederhana mampu menjadi sebuah usaha yang sangat
menjajikan.
Komoditas
microgreen yang akan digunakan antara lain :
1. Microgreen Bayam Hijau dan Merah
Bayam (Amaranthus) adalah tumbuhan yang biasa ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai
sayuran hijau. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik namun sekarang tersebar ke seluruh dunia.
Tumbuhan ini dikenal sebagai sayuran sumber zat besi yang
penting bagi tubuh.
Dalam 100 gr bayam hijau mengandung energi sebesar 16 Kkal, protein 0,9 gr, lemak 0,4 gr, karbohidrat 2,9 gr, kalsium 166 mg, serat 0,7 gr, zat besi 3,5 mg dan 41 mg vitamin C. Bayam hijau dapat diolah menjadi sayur bayam yang dipadukan dengan jagung, dapat pula ditumis, dan dapat diolah menjadi camilan sehat yaitu keripik bayam.
Jenis yang
merah banyak mengandung protein, lemak, karbohidrat, kalium, zat besi,
amarantin, rutin, purin serta vitamin A, B dan C. Bayam merah mengandung
betasianin dan antosianin-pigmen alami yang lebih tinggi daripada bayam
hijau. Dalam 100gr bayam merah mengandung energi sebesar 41,2 kkal, 2,2 gr
protein, 0,8 gr lemak, 6,3 gr karbohidrat, 520 mg kalsium, serat 2,2 gr, 7 mg
zat besi dan 62 mg vitamin C.
Salah satu pertimbangan pemilihan
komoditas bayam selain gizi tinggi yang ada pada bayam juga dikarenakan harga
benih yang murah dan mudah didapatkan.

Gambar 2. Microgreen Bayam Hijau

Gambar 3. Microgreen Bayam Merah
2. Microgreen Selada
Selada
(Lactuca sativa L) merupakan
salah satu komoditi hortikultura yang memiliki prospek dan nilai komersial yang cukup baik. Semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia serta meningkatnya kesadaran penduduk akan kebutuhan gizi menyebabkan bertambahnya permintaan akan sayuran. Kandungan gizi pada sayuran terutama vitamin dan mineral tidak dapat disubtitusi melalui makanan pokok, Nazaruddin (2003).

Gambar
4. Microgreen Selada
Studi membandingkan kandungan mineral untuk selada
hijau kecil dengan yang tumbuh sempurna. Ternyata, selada kecil punya lebih
banyak kalsium, magnesium, besi, seng, dan mangan.
Selada
adalah tanaman sayuran yang biasanya dapat dimakan secara mentah, hal
ini dikarenakan selada memiliki
kandungan mineral
yang cukup tinggi. Permintaan sayuran di Indonesia semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat
yang tinggi akan pola makan hidup yang
sehat
karena selada memiliki kandungan gizi yang tinggi.
Microgreen selada dipilih sebagai pemanis dan
pelengkap hal ini dikarenakan harga benihnya cukup mahal, sehingga selain mengambil
microgreennya saya juga akan menyertakaan selada pada olahan dengan selada umur
dewasa yang nanti akan dibudidaya sendiri, sehingga akan memperkaya tampilan
produk olahan salad tersebut.
3. Microgreen Sawi
Komposisi zat-zat
makanan yang terkandung dalam setiap 100 g berat basah tanaman sawi berupa Protein
2.3 g, Lemak 0.3 g, Karbohidrat 4.0 g, Ca 220.0 mg, P 38.0 g, Fe 2.9 g, Vitamin
A 1.940 mg, Vitamin B 0.09 mg, dan Vitamin C 102 mg (Haryanto et al., 1995).
Tanaman sawi kaya
akan sumber vitamin A, sehingga berdaya guna dalam upaya mengatasi masalah
kekurangan vitamin A atau mengatasi penyakit rabun ayam (Xerophthalmia) yang sampai kini menjadi masalah di kalangan anak
balita. Kandungan nutrisi lain pada tanaman ini berguna juga dalam menjaga
kesehatan tubuh manusia (Rukmana, 1994).
Pemilihan komoditas
microgreen sawi juga ditujukan juga untuk menambah keanekaragaman pada olahan
salad, dengan banyaknya komoditas tanaman pada olahan diharpkan mampu menarik
perhatian pembeli/konsumen untuk membeli.

Gambar 5. Microgreen Sawi
D.
Diversifikasi
Pengolahan
Diversifikasi pangan merupakan upaya untuk
mendorong masyarakat agar memvariasikan makanan pokok yang dikonsumsi sehingga
tidak terfokus pada satu jenis saja. Konsep diversifikasi hanya terbatas pangan
pokok, sehingga diversifikasi konsumsi pangan diartikan sebagai pengurangan
konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non
beras (Pakpahan dan Suhartini, 1989). Pada dasarnya diversifikasi pangan
mencakup tiga lingkup pengertian yang saling berkaitan, yaitu diversifikasi
konsumsi pangan, diversifikasi ketersediaan pangan, dan diversifikasi produksi
pangan (Suhardjo, 1998).
Diverifikasi pangan juga bermanfaat untuk
memperoleh nutrisi dari sumber gizi yang lebih beragam dan seimbang.
Diversifikasi pangan yang dilakukan masyarakat kawasan ASEAN umumnya, dan
Indonesia khususnya yaitu berupa nasi, karena mayoritas wilayah Asia Tenggara
merupakan wilayah penghasil beras. Indonesia juga menegaskan komitmennya dalam
melaksanakan program tersebut dengan menjelaskan definisi diversifikasi pangan
yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 68 tahun 2002 tentang Ketahanan
Pangan demi mewujudkan swasembada beras dengan meminimalkan konsumsi beras agar
tidak melebihi produksinya.
1.
Salad
Microgreens paling baik konsumsi secara segar tanpa dimasak. Umumnya, microgreens digunakan
sebagai garnish atau hiasan pada masakan di restoran,
seperti steak dan sup. Setelah diketahui memiliki nutrisi
yang luar biasa banyak, microgreens mulai dikonsumsi sebagai salad.
Saat ini Covid-19 menjadi wabah pandemi mengkhawatirkan yang
menginfeksi saluran pernapasan manusia yang terjadi hampir di seluruh negara di
muka bumi ini. Mengonsumi makanan dengan gizi seimbang yang mengandung mineral,
antioksidan dan vitamin tinggi dapat membangun sistem imun. Bahan alami seperti
senyawa fitokimia dari tumbuhan khususnya yang ditanam dalam bentuk microgreens
menawarkan alternatif yang patut diperhitungkan.

Gambar
6. Salad Microgreen
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa asupan makanan yang memiliki kandungan micronutrient dapat meningkatkan
sistem imun. Microgreens merupakan lalaban mikro yang didapat dengan cara
menanam sayuran atau tumbuhan herbal lainnya selama 7 sampai dengan 21 hari
dengan potensi yang sangat besar untuk melawan covid-19.
Berbekal pengetahuan tersebut peluang
salad microgreen sangat menjanjikan dimasa-masa seperti ini, hal ini dudukung
juga dengan meningkatnya pengtahuan masyarakat tentang manfaat yang terdapat
pada tanaman microgreen. Salad microgreen dengan kemasan ekonomis dan harga
yang terjangkau dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang tidak memiliki waktu
untuk mengolahnya.
E.
Analisa
Ekonomi
1.
Proyeksi
Keuangan
|
Biaya Tetap |
|||||||||
|
No |
Nama Alat |
Jumlah |
Harga Satuan
(Rp) |
Harga Total
(Rp) |
|||||
|
Budidaya
Ternak |
|||||||||
|
1 |
Drum 5 Ukuran Liter |
1 item |
10.000,00 |
10.000,00 |
|||||
|
Budidaya
Microgren |
|||||||||
|
1 |
Nampan |
6 item |
10.000,00 |
60.000,00 |
|||||
|
2 |
Botol Spray |
1 item |
15.000,00 |
15.000,00 |
|||||
|
Pengolahan
Salad Microgreen |
|||||||||
|
1 |
Pisau |
1 item |
15.000,00 |
15.000,00 |
|||||
|
2 |
Gunting |
1 item |
10.000,00 |
10.000,00 |
|||||
|
Total |
110.000,00 |
||||||||
|
Biaya
Penyusutan |
|||||||||
|
No |
Nama Alat |
Jumlah (Unit) |
Harga Beli
(Rp/Unit) |
Nilai Sisa
(Rp/Unit) |
Umur Ekonomis |
Penyusutan
Pertahun |
|||
|
1 |
Drum
Ukuran5 Liter |
1 item |
10.000,00 |
7.000,00 |
1 |
Rp. 3.000 |
|||
|
2 |
Nampan |
6 item |
10.000,00 |
6.000,00 |
1 |
Rp. 12.000 |
|||
|
3 |
Botol Spray |
1 item |
15.000,00 |
10.000,00 |
1 |
Rp. 5.000 |
|||
|
4 |
Pisau |
1 item |
15.000,00 |
10.000,00 |
1 |
Rp. 5.000 |
|||
|
5 |
Gunting |
1 item |
10.000,00 |
8.000,00 |
1 |
Rp. 2.000 |
|||
|
Total |
Rp. 27.000 |
||||||||
Tabel 1. Biaya Tetap
|
Biaya Variabel |
|||||||
|
No |
Nama Bahan |
Jumlah |
Harga Satuan
(Rp) |
Harga Total
(Rp) |
|||
|
Budidaya
Ternak Marmot |
|||||||
|
1 |
Marmot |
1
ekor |
40.000,00 |
40.000,00 |
|||
|
2 |
EM4 |
1
liter |
15.000,00 |
15.000,00 |
|||
|
3 |
Molase |
1 liter |
8.000,00 |
8.000,00 |
|||
|
4 |
Pakan -Sayur |
3 kg |
2.000,00 |
6.000,00 |
|||
|
Budidaya
Microgreen |
|||||||
|
1 |
Benih sawi |
1
bungkus |
25.000,00 |
25.000,00 |
|||
|
2 |
Benih Bayam Hijau |
1 bungkus |
27.000,00 |
27.000,00 |
|||
|
3 |
Benih Bayam Merah |
1 bungkus |
22.000,00 |
22.000,00 |
|||
|
4 |
Benih Selada |
2 bungkus |
23.000,00 |
46.000,00 |
|||
|
5 |
Insektisida |
1bungkus |
20.000,00 |
20.000,00 |
|||
|
6 |
fungisida |
1bungkus |
25.000,00 |
25.000,00 |
|||
|
7 |
Pupuk Kandang |
1karung
(ukuran 25 kg) |
10.000,00 |
10.000,00 |
|||
|
Pengolahan
Salad Microgreen |
|||||||
|
1 |
Mayones |
1 kg |
30.000,00 |
30.000,00 |
|||
|
2 |
Sosis |
1 pack |
24.000,00 |
24.000,00 |
|||
|
3 |
Cup Packing |
25 item |
1.000,00 |
25.000,00 |
|||
|
4 |
Kantong Plastik |
1 pack |
10.000,00 |
10.000,00 |
|||
|
5 |
Tomat Ceri |
250 gram |
7.000,00 |
7.000,00 |
|||
|
6 |
Timun Kecil |
1 bungkus |
6.000,00 |
6.000,00 |
|||
|
7 |
Label |
1 lembar A3 |
10.000,00 |
10.000,00 |
|||
|
8 |
Plastik Klip 5x8 cm |
1 pack |
5.000,00 |
5.000,00 |
|||
|
Total |
361.000,00 |
||||||
Tabel 2. Biaya Variabel
2. Proyeksi
hasil penjualan
Olahan salad
microgreen akan dibuat dengan dua varian yaitu yang pertama varian dengan isian
4 jenis komoditas microgreen dan juga bahan pendukung lain seperti potongan
tomat ceri, selada dewasa, timun kecil dan mayones dengan total berat 100 gram.
Untuk varian kedua dengan isian 4 jenis komoditas microgreen dan juga bahan
pendukung lain seperti potongan tomat ceri, selada dewasa, timun kecil,
mayones, daging marmot dan sosis potongan dengan berat total 150 gram.
Dengan adanya
dua varian tersebut juga akan ada perbedaan pemberian harga jual yaitu untuk
varian pertama dengan berat 100gram akan diberi harga Rp. 10.000/pack dan untuk
varian kedua dengan berat 150gram akan dibandrol harga Rp. 15.000/pack.
Penjualan varian ke 2 dilakukan pada tahap ke 3 atau minggu terakhir hal ini
dikarenakan hanya memiliki 1 ternak marmot.
Total biaya
produksi Rp. 471.000 sehingga minimal dalam waktu 3 bulan kedepan target
penjualan yaitu 30 pack varian pertama dan 12 pack varian kedua.
3. Analisa Kelayakan Usaha
Dikarenakan terdapat dua varian harga hal ini juga
menyebabkan perbedaan biaya produksi yaitu terdapat pada biaya variabel. Untuk
varian pertama biaya variabel menjadi Rp. 297.0000 karena tidak menggunakan
daging marmot dan sosis sebagai biaya produksi sedangkan varian kedua dengan
berat 150 gram/pack biaya variabel tetap Rp. 361.000
BEP multi
product
|
|
(1) Unit Penjualan |
(2) Perbandingan Penjualan |
(3) Contribution Margin per Unit |
(4) (2x3) Perbandingan Rata-rata |
|
Varian 100gr |
30 |
30/42 |
Rp. 100 |
Rp. 71,5 |
|
Varian 150gr |
12 |
12/42 |
Rp. 14.969 |
Rp. 4.276,8 |
|
Total |
42 |
|
|
Rp. 4.348,3 |
Tabel 3. BEP Multi Product
*Contribution
Margin per Unit = harga jual per unit - Variable Operating Cost per unit
BEP ![]()
![]()
25,29
= 26 Unit
BEP tercapai apa bila titik penjualan mencapai 26 unit
(varian 100gr + varian 150gr) dengan masing masing 19 unit varian 100gr
(30/42x26) dan varian 150gr 8 unit (12/42x26).
Untuk
lebih jelasnya maka tingkat break even point sebesar 26 unit akan dijelaskan pada table berikut.
|
Keterangan |
Produk (Varian) |
Total |
|
|
100gr |
150gr |
||
|
Penjualan |
Rp. 190.000 |
Rp. 120.000 |
Rp. 310.000 |
|
Dikurangi Fixed operating cost |
|
|
Rp. 110.000 |
|
Dikurangi Variable Operating Cost |
Rp. 297.000 |
Rp. 361.000 |
Rp. 658.000 |
|
Ebit |
0,303 |
||
Tabel 4. Nilai Ebit
Sehingga untuk mencapai BEP, produksi harus mencapai 3
kali produksi atau 78 unit (3x26).
BEP = 3 x
310.000
=
930.000
=
930.000-200.000 (total penjualan- Fixed operating cost)
=
730.000
=
730.000-658.000 ( total variable operating cost)
=
1,10
R/C
ratio
![]()
![]()
![]()
B/C
Ratio lebih kecil
dari satu, menunjukkan bahwa produk
salad microgreen perlu di teruskan hingga nilai R/C ratio menjadi lebih dari 1,
minimal 3 kali produksi .
BAB III. METODE PELAKSANAAN
A.
Alat
1. Nampan
2. Kemasan Produk
3. Botol Spray
4. Sendok
5. Pisau
6. Telenan
7. Gelas Ukur
8. Timbangan
9. Label Produk
10. Gunting
11. Kantong Plastik
12. Plastik Klip 5x8 cm
B. Bahan
1.
Benih
Sawi
2.
Benih
Selada
3.
Benih
Bayam Hijau
4.
Benih
Bayam Merah
5.
Mayones
6.
Em4
7.
Molase
8.
Kotoran
Marmot
9.
Tetes
Tebu
10.
Media
Tanam/Semai
11.
Tomat
Ceri
12.
Sosis
13.
Marmot
C.
Cara Kerja
1. Pembuatan Kompos

2.
Budidaya
Microgreen
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|||
3.
Salad
Microgreen
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
BAB.
IV RENCANA ANGGARAN
|
Budidaya Ternak
Marmot |
||||
|
No |
Nama Bahan |
Jumlah |
Harga Satuan
(Rp) |
Harga Total
(Rp) |
|
1 |
Marmot |
1
ekor |
40.000,00 |
40.000,00 |
|
2 |
Drum 5 Ukuran Liter |
1 item |
10.000,00 |
10.000,00 |
|
3 |
EM4 |
1
liter |
15.000,00 |
15.000,00 |
|
4 |
Molase |
1 liter |
8.000,00 |
8.000,00 |
|
5 |
Pakan -Sayur |
3 kg |
2.000,00 |
6.000,00 |
|
Budidaya
Microgreen |
||||
|
1 |
Benih sawi (100gr) |
1
bungkus |
25.000,00 |
25.000,00 |
|
2 |
Benih Bayam Hijau (100gr) |
1 bungkus |
27.000,00 |
27.000,00 |
|
3 |
Benih Bayam Merah (50gr) |
1 bungkus |
22.000,00 |
22.000,00 |
|
4 |
Benih Selada (50gr) |
2 bungkus |
23.000,00 |
46.000,00 |
|
5 |
Botol Spray |
1 item |
15.000,00 |
15.000,00 |
|
6 |
Nampan |
6 item |
10.000,00 |
60.000,00 |
|
7 |
Insektisida |
1bungkus |
20.000,00 |
20.000,00 |
|
7 |
fungisida |
1bungkus |
25.000,00 |
25.000,00 |
|
7 |
Pupuk Kandang |
1karung
(ukuran 25 kg) |
10.000,00 |
10.000,00 |
|
Pengolahan
Salad Microgreen |
||||
|
1 |
Mayones |
1 kg |
30.000,00 |
30.000,00 |
|
2 |
Cup Packing |
25 item |
1.000,00 |
25.000,00 |
|
3 |
Kantong Plastik |
1 pack |
10.000,00 |
10.000,00 |
|
4 |
Tomat Ceri |
250 gram |
7.000,00 |
7.000,00 |
|
5 |
Timun Kecil |
1 bungkus |
6.000,00 |
6.000,00 |
|
6 |
Label |
1 lembar A3 |
10.000,00 |
10.000,00 |
|
7 |
Plastik Klip 5x8 cm |
1 pack |
5.000,00 |
5.000,00 |
|
8 |
Pisau |
1 item |
15.000,00 |
15.000,00 |
|
9 |
Gunting |
1 item |
10.000,00 |
10.000,00 |
|
10 |
Sosis |
1 pack |
24.000,00 |
24.000,00 |
|
JUMLAH |
471.000,00 |
|||
Tabel 5. Rencana Anggaran
BAB
V. TIME
SCHEDULE
|
No |
Kegiatan |
September |
Oktober |
November |
Desember |
||||||||||
|
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1 |
Pertemuan Pertama |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Pengumpulan proposal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Pembatan POC |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
Penyiapan media persemaian |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
Persiapan lahan Selada dewasa |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
Penyemaian microgreen |
|
|
|
|
* |
|
* * |
|
* * * |
|
|
|
|
|
|
5 |
Penanaman selada dewasa |
|
|
* |
|
* * |
|
* * * |
|
|
|
|
|
|
|
|
6 |
Pemupukan microgreen |
|
|
|
|
|
* |
|
* * |
|
* * |
|
|
|
|
|
6 |
Pemupukan selada dewasa |
|
|
|
* |
|
* * |
|
* * * |
|
|
|
|
|
|
|
7 |
Pemanenan microgreen |
|
|
|
|
|
|
* |
|
* * |
|
* * * |
|
|
|
|
7 |
Pemanenan selada dewasa |
|
|
|
|
|
|
* |
|
* * |
|
* * * |
|
|
|
|
8 |
Pengolahan dan Penjualan Produk |
|
|
|
|
|
|
* |
|
* * |
|
* * * |
|
|
|
|
8 |
Pengolahan daging marmot |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9 |
Pembuatan Laporan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10 |
Presentasi |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tabel 6. Time Schedule
Keterangan :
|
* |
Tahap 1 |
|
* * |
Tahap 2 |
|
* * * |
Tahap 3 |
DAFTAR
PUSTAKA
Cahyono
B. 2008. Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius.
Crawford. J.H. 2003 . Composting of Agricultural Waste in Biotechnology Applications and Research,
Paul N, Cheremisinoff and R. P.Ouellette (ed). p. 6877.
Darmawan.
2009. Kailan dan Budidayanya. Penebar Swadaya. Jakarta.
Ebert AW. 2012.
Sprouts, microgreens, and edible flowers: the potential for high value
specialty produce in Asia [disampaikan pada] SEAVEG2012 Regional Symposium,
24-26 January 2012 Hal.
Haryanto, E., S. Tina., dan R. Estu. 1995. Sawi dan
Selada. Penebar Swadaya. Jakarta. 117 hlm.
Nazaruddin., 2003. Budidaya
dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya, Jakarta.
Novriani.2014.
Respon Tanaman Selada (Lactuca sativa L.)
Terhadap Pemberia Pupuk Organik Cair Asal Sampah Organik.Klorofil.9(2):
57-61.
Pakpahan,
A. dan S.H. Suhartini. 1989. Permintaan
Rumah Tangga Kota di Indonesia Terhadap Keanekaragaman. Jurnal Agro
Ekonomi. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Bogor.
Rukmana,
R, 2005.
Bertanam Petsai dan Sawi. Yogyakarta: Kanisus.
Rukmana, Rahmat. 1994. Bayam, Bertanam &
Pengelolahan Pascapanen. Yogjakarta: Kanisius.
Suhardjo, 1998. Konsep dan Kebijaksanaan Diversifikasi Konsumsi Pangan dalam rangka Ketahanan Pangan.
Makalah disampaikan pada Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, tanggal
17- 20 Pebruari 1998. Jakarta.
Sunarjono,
H. 2014. Bertanam 36 Jenis Sayuran. Jakarta: Penebar Swadaya. 204
Xiao, Jing Jian., Chen,
Cheng., dan Chen, Fuzhong. (2013). Consumer Financial Capability and
Financial Satisfaction.











Comments
Post a Comment